15 Kesalahan Grammar Bahasa Inggris yang Paling Sering Dilakukan (dan Cara Menghindarinya)

kesalahan grammar bahasa Inggris

Kesalahan grammar bukan tanda kamu tidak berbakat belajar bahasa Inggris — justru sebaliknya. Kesalahan yang sama diulang-ulang artinya ada pola yang belum dipahami, dan begitu polanya jelas, kesalahan itu akan berhenti dengan sendirinya.

Artikel ini membahas 15 kesalahan grammar yang paling sering dilakukan — bukan sekadar “ini salah, ini benar”, tapi juga kenapa kesalahan itu terjadi dan bagaimana cara berpikir yang benar untuk menghindarinya.

1. Salah Memilih “To Be” (am/is/are)

Kenapa terjadi: Dalam bahasa Indonesia tidak ada padanan langsung untuk “to be” — kita tidak mengatakan “saya adalah” atau “dia adalah” dalam percakapan. Jadi otak secara otomatis melewatinya.

Salah Benar
She are happy. She is happy.
They is my friends. They are my friends.
I is a student. I am a student.

Cara menghindari: Hafal tiga pasangan ini saja — I → am, He/She/It → is, You/We/They → are. Tidak ada pengecualian untuk simple present.

2. Lupa Tambah -s/-es untuk He/She/It

Kenapa terjadi: Dalam bahasa Indonesia, kata kerja tidak berubah bentuk berdasarkan subjeknya. “Dia makan” dan “mereka makan” kata kerjanya sama. Jadi otak tidak terlatih untuk mengubah kata kerja berdasarkan subjek.

Salah Benar
She go to school every day. She goes to school every day.
He like coffee. He likes coffee.
My sister work at a hospital. My sister works at a hospital.

Cara menghindari: Setiap kali subjeknya he, she, it, atau nama orang (tunggal) — tambahkan -s. Jadikan ini refleks, bukan aturan yang harus diingat.

3. Pakai Simple Present untuk Cerita Masa Lalu

Kenapa terjadi: Dalam bahasa Indonesia, kata kerja tidak berubah untuk menunjukkan waktu — “saya pergi ke Bali kemarin” dan “saya pergi ke Bali besok” menggunakan kata kerja yang sama. Jadi otak tidak terbiasa mengubah kata kerja untuk waktu.

Salah Benar
I go to Bali yesterday. I went to Bali yesterday.
She eat dinner at 7 last night. She ate dinner at 7 last night.

Cara menghindari: Perhatikan signal words waktu lalu — yesterday, last week, last year, ago, in 2020. Kalau ada kata-kata ini, kata kerjanya harus dalam bentuk past.

4. Salah Pakai Present Perfect vs Simple Past

Kenapa terjadi: Ini yang paling membingungkan karena bahasa Indonesia tidak punya padanan langsung untuk present perfect. Kita menggunakan “sudah” untuk keduanya.

Situasi Yang Dipakai Contoh
Waktu spesifik Simple Past “I saw him yesterday.”
Pengalaman (waktu tidak penting) Present Perfect “I have seen that movie.”
Baru saja terjadi Present Perfect “I have just eaten.”

Aturan sederhana: Kalau ada keterangan waktu spesifik (yesterday, last week, in 2020) → Simple Past. Kalau tidak ada keterangan waktu atau menekankan pengalaman → Present Perfect.

Salah Benar
I have seen him yesterday. I saw him yesterday.
Did you ever visit Japan? Have you ever visited Japan?

Baca Juga: Cara Belajar Tenses Bahasa Inggris: Panduan dari Dasar sampai Mahir

5. Stative Verbs dalam Bentuk Continuous

Kenapa terjadi: Setelah belajar present continuous, banyak yang terlalu bersemangat dan menerapkannya ke semua kata kerja.

Stative verbs adalah kata kerja yang menggambarkan kondisi atau keadaan — bukan aksi — dan tidak bisa dipakai dalam bentuk continuous.

Contoh stative verbs: know, understand, like, love, hate, want, need, believe, remember, forget, own, seem, appear

Salah Benar
I am understanding this. I understand this.
She is liking pizza. She likes pizza.
He is knowing the answer. He knows the answer.

6. Lupa Auxiliary Verb di Kalimat Tanya dan Negatif

Kenapa terjadi: Dalam bahasa Indonesia, kalimat tanya dibentuk dengan intonasi atau menambahkan “apakah” — tidak ada perubahan struktur kalimat. Jadi otak tidak otomatis menambahkan do/does/did.

Salah Benar
You like coffee? Do you like coffee?
She not work here. She doesn’t work here.
He went to the store? Did he go to the store?

Pola: Do (I/you/we/they) / Does (he/she/it) / Did (semua, untuk past)

7. Much vs Many

Kenapa terjadi: Bahasa Indonesia hanya menggunakan “banyak” untuk keduanya.

  • Much = untuk uncountable nouns (tidak bisa dihitung): water, money, time, information
  • Many = untuk countable nouns (bisa dihitung): friends, books, cars, people
Salah Benar
I don’t have much friends. I don’t have many friends.
How many water do you need? How much water do you need?

Tips cepat: Kalau bisa dihitung (1 friend, 2 friends) → many. Kalau tidak bisa dihitung satuan → much.

8. Few vs A Few / Little vs A Little

Kenapa terjadi: Keempat kata ini terdengar mirip tapi maknanya berbeda secara signifikan.

  • Few = hampir tidak ada (negatif): “I have few friends.” — aku hampir tidak punya teman
  • A few = ada beberapa (positif): “I have a few friends.” — aku punya beberapa teman
  • Little = hampir tidak ada (negatif): “I have little time.”
  • A little = ada sedikit (positif): “I have a little time.”

Perbedaan satu kata (“a”) mengubah makna dari negatif ke positif.

9. Salah Pakai Preposisi Waktu (In/On/At)

Kenapa terjadi: Bahasa Indonesia menggunakan “pada” atau “di” untuk semua situasi waktu.

  • At = waktu spesifik dan ekspresi tertentu: at 7 PM, at noon, at night, at the weekend
  • On = hari dan tanggal: on Monday, on June 15, on my birthday
  • In = periode waktu yang lebih panjang: in the morning, in June, in 2025, in the 19th century
Salah Benar
I’ll see you in Monday. I’ll see you on Monday.
She was born on 1995. She was born in 1995.
The meeting is on 3 PM. The meeting is at 3 PM.

10. Since vs For

Kenapa terjadi: Keduanya menggambarkan durasi dalam bahasa Indonesia — “sejak” dan “selama” — tapi penggunaannya berbeda.

  • Since = titik waktu awal yang spesifik: “I have lived here since 2020.”
  • For = durasi/jangka waktu: “I have lived here for three years.”
Salah Benar
I’ve known her since five years. I’ve known her for five years.
He’s been sick for Monday. He’s been sick since Monday.

11. Salah Urutan Adjective

Kenapa terjadi: Dalam bahasa Indonesia, urutan kata sifat lebih fleksibel. Dalam bahasa Inggris ada urutan yang baku: Opinion → Size → Age → Shape → Color → Origin → Material → Purpose + Noun.

Salah Benar
A red big old car A big old red car
A wooden beautiful table A beautiful wooden table

Tips praktis: Kalau tidak yakin urutannya, coba ucapkan keduanya — yang terdengar lebih natural biasanya yang benar.

12. Penggunaan “Make” dan “Do” yang Tertukar

Make (menciptakan/menghasilkan) Do (melakukan aktivitas)
make a decision do homework
make a mistake do your best
make coffee do the dishes
make a plan do exercise
make a phone call do business

Tidak ada aturan yang sempurna — keduanya harus dihafalkan sebagai pasangan tetap (collocations).

Baca Juga: Pahami Perbedaan Make dan Do dalam Bahasa Inggris

13. Kata Ganti Objek vs Subjek yang Tertukar

Subjek Objek
I me
he him
she her
they them
we us
Salah Benar
Can you help I? Can you help me?
She called he yesterday. She called him yesterday.
Between you and I. Between you and me.

14. Penggunaan “Will” vs “Going To” yang Tertukar

  • Will = keputusan spontan, prediksi, atau janji: “I’ll help you with that.” (baru diputuskan sekarang)
  • Going to = rencana yang sudah ada sebelumnya: “I’m going to visit my parents this weekend.” (sudah direncanakan)
Konteks Yang Tepat
Telepon berdering, kamu langsung angkat “I’ll get it!” (keputusan spontan)
Kamu sudah beli tiket ke Bali “I’m going to Bali next week.” (sudah direncanakan)

15. Kalimat Conditional yang Tidak Konsisten

Kenapa terjadi: Banyak yang mencampur tenses dalam satu kalimat conditional.

Tipe Struktur Contoh
Conditional 1 (situasi nyata) If + present, will + V1 “If it rains, I will stay home.”
Conditional 2 (situasi hipotetis) If + past, would + V1 “If I had more time, I would travel.”
Salah Benar
If it will rain, I stay home. If it rains, I will stay home.
If I have more money, I would travel. If I had more money, I would travel.

Satu Hal yang Lebih Penting dari Grammar yang Sempurna

Dari 15 kesalahan di atas, hampir semuanya tidak akan menghalangi komunikasi. Native speaker sangat jarang berhenti memahami maksudmu hanya karena ada kesalahan grammar — mereka mengerti dari konteks.

Yang justru menghalangi komunikasi adalah takut salah sampai tidak berani berbicara sama sekali. Kesalahan grammar diperbaiki dengan sering berbicara, bukan dengan menghindari berbicara.

Inilah yang menjadi inti dari pendekatan di Kampung Inggris Nature Bogor — belajar grammar bukan dari menghafal aturan, tapi dari menggunakannya dalam percakapan nyata setiap hari sampai menjadi refleks.

Scroll to Top